Kuskus Papua di Tengah Kepungan Deforestasi: Satwa Pemanjat yang Kehilangan Rumahnya

(Sumber : https://mongabay.co.id/)
Ketika Rumah Kuskus Mulai Hilang
Pada awal Agustus 2026, seekor kuskus terekam kamera sedang memanjat sisa dahan di antara pepohonan yang tumbang di Merauke, Papua Selatan. Di sekitarnya, alat berat terus membuka lahan. Rekaman ini ramai dibagikan di media sosial dan menjadi gambaran nyata tentang apa yang dialami satwa liar ketika hutan menghilang (Mongabay Indonesia, 2026).
Mengenal Kuskus
Identitas pasti kuskus dalam video tersebut belum dikonfirmasi oleh lembaga konservasi. Berdasarkan wilayah persebarannya, satwa itu diduga kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau kuskus timur (Phalanger orientalis), yang sama-sama hidup di dataran rendah Papua bagian selatan hingga Papua Nugini (Mongabay Indonesia, 2026). Mengenali jenis kuskus memang tidak selalu mudah. Informasi tentang perilaku, penyebaran, dan jenisnya belum diketahui secara pasti (Kasi et al., 2019). Kajian filogenetik terbaru bahkan menyebut spesimen yang selama ini dikenali sebagai P. orientalis perlu diperiksa ulang.
Kuskus adalah mamalia berkantung atau marsupial dari famili Phalangeridae. Famili ini tersebar luas di Australia, New Guinea, Indonesia bagian timur, dan pulau-pulau di sekitarnya (Kealy et al., 2020). Di Indonesia, kuskus dari genus Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, dan Strigocuscus menyebar terbatas di Indonesia bagian timur, yaitu Sulawesi, Maluku, Papua, dan Timor (Handayani & Kunda, 2019). Karena bergerak lambat dan bermata besar yang menghadap ke depan, kuskus sering dikira primata. Padahal, kekerabatannya lebih dekat dengan kanguru dan koala (Mongabay Indonesia, 2026).
Ciri utama famili ini adalah kantung di bagian perut, wajah yang bundar, daun telinga yang kecil, dan bulu yang lebat. Ekornya panjang dan kuat sehingga membantu kuskus berpegangan saat berpindah dari satu dahan ke dahan lain (Handayani & Kunda, 2019). Dalam survei di Kampung Warsnembri, Tambrauw, kuskus timur betina tercatat memiliki kantung anak di bagian perutnya (Kasi et al., 2019).
Di Papua, kuskus terbagi menjadi dua genus, yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Wartika Rosa Farida, menjelaskan bahwa pola warna bulu berbeda antar genus (Badan Riset dan Inovasi Nasional [BRIN], 2023). Analisis gen 16S rRNA pada kuskus dari Papua dan Maluku juga memisahkannya menjadi dua kelompok genetik, yaitu Phalanger dan Spilocuscus (Widayanti et al., 2020). Di lapangan, kuskus timur berbulu putih, abu-abu, atau kecokelatan dengan garis hitam di tengah punggung yang memanjang dari dahi hingga ekor. Kuskus totol berbulu kemerahan atau merah muda dengan bintik hitam di punggung bagian belakang, dan telinganya sangat pendek serta tertutup bulu (Kasi et al., 2019). Masyarakat setempat di Warsnembri bahkan memberi nama kuskus terutama berdasarkan warna bulunya (Kasi et al., 2019).
Sebagai satwa arboreal, kuskus menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon dan jarang terlihat di permukaan tanah. Pepohonan menjadi bagian penting dari habitatnya, mulai dari tempat beristirahat dan berlindung hingga menyediakan ruang untuk mencari makan dan berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Penelitian mengenai karakteristik habitat kuskus menunjukkan bahwa keberadaan pohon dengan tajuk yang lebat dan vegetasi yang beragam mendukung berbagai aktivitas kuskus, termasuk beristirahat, mencari makan, dan berpindah (Jacobus et al., 2023).
Ketergantungan tersebut membuat kuskus rentan ketika hutan mengalami kerusakan. Penebangan pohon tidak hanya menghilangkan tempat berlindung, tetapi juga dapat mengurangi sumber pakan dan memutus jalur pergerakannya. Bagi satwa yang hidup di tajuk pohon, hilangnya pepohonan berarti semakin sempitnya ruang untuk bertahan hidup.
Ketika Hutan Menjadi Terfragmentasi
Deforestasi tidak hanya mengurangi luas hutan, tetapi juga dapat memecah habitat menjadi bagian-bagian yang terpisah. Kondisi ini dapat membatasi ruang gerak satwa serta mengurangi ketersediaan tempat berlindung dan sumber makanan (Felayati et al., 2022; Sudira et al., 2023). Pada kuskus, perubahan kondisi hutan dapat memengaruhi persebaran dan kepadatannya. Penelitian di hutan produksi Papua Barat menunjukkan bahwa aktivitas penebangan dan keterbukaan kawasan hutan diduga berkaitan dengan rendahnya kepadatan kuskus di wilayah penelitian (Felayati et al., 2022).
Bagi kuskus yang bergantung pada pepohonan, habitat yang terpecah menjadi tantangan karena dapat mengurangi ruang untuk berpindah, mencari makan, dan berlindung. Ketika pepohonan yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya menghilang, pergerakan kuskus pun berpotensi semakin terbatas (Sudira et al., 2023). Kondisi tersebut tergambar dalam rekaman dari Merauke ketika seekor kuskus terlihat berada di antara pepohonan yang tumbang saat pembukaan lahan berlangsung (Mongabay Indonesia, 2026).
Mengapa Kuskus Perlu Dilindungi?
Kuskus bukan sekadar penghuni hutan, tetapi juga punya peran ekologis. Sebagai satwa pemakan buah, kuskus ikut menyebarkan biji ketika buah yang dimakannya terbawa dan bijinya dibuang di tempat lain, sehingga membantu regenerasi hutan (Paino, 2026). Peneliti BRIN, Wartika Rosa Farida, juga menyebut keberadaan kuskus berkaitan dengan proses regenerasi vegetasi hutan (Izzah, 2026). Hal ini sejalan dengan kebiasaan kuskus yang bergantung pada beragam tumbuhan sebagai sumber pakan (Handayani & Kunda, 2019). Di Seram Bagian Barat, kuskus bahkan lebih banyak dijumpai di hutan sekunder karena tersedia lebih banyak tumbuhan berbuah (Joseph et al., 2024).
Selain itu, kuskus menjadi bagian dari rantai makanan. Satwa ini menjadi sumber pakan bagi predator alami seperti ular sanca dan burung pemangsa, sehingga ikut menjaga keseimbangan jaring makanan (Paino, 2026). Perannya penting karena populasi kuskus terus menurun akibat hilangnya habitat dan perburuan (Paino, 2026). Seluruh jenis kuskus di Indonesia memang telah dilindungi hukum, dan perdagangan internasionalnya diatur melalui CITES Appendix II (Izzah, 2026). Karena bergerak lambat dan sulit menyeberangi lahan terbuka, kelompok kuskus yang terisolasi berisiko mengalami penurunan keragaman genetik dan kepunahan lokal (Izzah, 2026). Karena itu, menjaga kuskus berarti menjaga ekosistem hutan Papua.
Rumah Kuskus

(Sumber: IPB University (2026), foto @fidell_bengg)
Rekaman kuskus di tengah pohon yang tumbang di Merauke mengingatkan bahwa perlindungan satwa tidak cukup hanya dengan melarang perburuan. Hal pertama adalah perlindungan habitat. Farida menilai penebangan di habitat penting perlu dihentikan dan kawasan yang terdegradasi perlu dipulihkan, karena tempat kuskus mencari makan dan berkembang biak harus tetap ada (Izzah, 2026). Upaya pelestarian habitat ini juga menjadi perhatian dalam kajian populasi kuskus di Sulawesi (Sudira et al., 2023).
Selanjutnya, perburuan dan perdagangan satwa liar perlu dikurangi. Pengetahuan masyarakat tentang kuskus dinilai dapat membantu menekan keduanya (Izzah, 2026). Di sisi lain, pemantauan dan penelitian masih sangat dibutuhkan karena penyebaran dan kebutuhan ekologis sejumlah spesies kuskus belum sepenuhnya diketahui. Pemetaan populasi dan habitat dapat menentukan kawasan yang harus diprioritaskan (Izzah, 2026). Kajian estimasi populasi dan sebaran kuskus, seperti di Teluk Wondama, menjadi contoh upaya menyediakan data tersebut (Felayati et al., 2024).
Terakhir, masyarakat lokal perlu dilibatkan. Masyarakat di Warsnembri, misalnya, mengenali dan menamai kuskus berdasarkan warna bulunya (Kasi et al., 2019), yang menunjukkan pengetahuan lokal berguna untuk upaya pelestarian. Dengan habitat yang terjaga, perburuan yang terkendali, penelitian yang berkelanjutan, dan masyarakat yang ikut menjaga, kuskus masih punya peluang untuk tetap hidup di rumahnya.
Penulis: Najwa Rifani (KPP XII), Laila Itsnaini (KPP XIII), Shabrina Ersa (KPP XIII), Karina Amelia (KPP XIII), Indana Zulfa (KPP XIII).
REFERENSI
Felayati, N. R., Santoso, N., & Rahman, D. A. (2024). The estimation of cuscus population and distribution in Teluk Wondama District, West Papua Province, Indonesia. Media Konservasi, 29(1), 37–48. https://doi.org/10.29244/medkon.29.1.37-48
Handayani, S. K., & Kunda, R. M. (2019). Identifikasi jenis-jenis tumbuhan sebagai pakan kuskus (Phalangeridae) asal Maluku di Taman Nasional Manusela bagian utara Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Matematika Sains dan Teknologi, 20(1), 9–19. https://doi.org/10.33830/jmst.v20i1.82.2019
Izzah, F. N. (2026, August 14). Viral kuskus linglung di Merauke, ini yang bisa dilakukan agar habitatnya tak hilang. Good News From Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/08/14/viral-kuskus-linglung-di-merauke-ini-yang-bisa-dilakukan-agar-habitatnya-tak-hilang
Jacobus, M.K.D., J.S. Tasirin, W. Nurmawan. 2023. Karakteristik Habitat Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) Berdasarkan Pohon Tidur di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara. Silvarum, 2(2). 94-101.
Joseph, S. D., Latupapua, L., & Sahusilawane, J. F. (2024). Penyebaran satwa kuskus berdasarkan tipe hutan (primer dan sekunder) pada Hutan Desa Tala, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jurnal Sylva Scienteae, 7(1), 80–89. https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jss/article/view/11605
Kasi, S., Worabai, M. S., & Warmetan, H. (2019). Identifikasi jenis-jenis kuskus di wilayah Kabupaten Tambrauw. Jurnal Kehutanan Papuasia, 5(2), 175–185. https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol5.Iss2.153
Kealy, S., Donnellan, S. C., Mitchell, K. J., Herrera, M., Aplin, K., O'Connor, S., & Louys, J. (2020). Phylogenetic relationships of the cuscuses (Diprotodontia: Phalangeridae) of island Southeast Asia and Melanesia based on the mitochondrial ND2 gene. Australian Mammalogy, 42(3), 266–276. https://doi.org/10.1071/AM18050
Mongabay Indonesia. (2026, 25 Agustus). Sedih, masa depan kuskus Papua terancam akibat kepungan deforestasi. https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/
Paino, C. (2026, August 18). Mengenal kuskus Papua yang kehilangan rumahnya. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2026/08/18/mengenal-kuskus-papua-yang-kehilangan-rumahnya/
Sudira, E., Prameswary, I., Aliyani, I., & Suryanda, A. (2023). Meta Analisis Populasi Kuskus (Ailurops sp. & Strigocuscus sp.) dan Upaya Pelestarian Habitat Kuskus di Kepulauan Sulawesi. Panthera: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sains dan Terapan, 3(3), 156-166. https://doi.org/10.36312/panthera.v3i3.188
Widayanti, R., Pradana, R. A. B., Kunda, R. M., & Pakpahan, S. (2020). Genetic characterization and phylogenetic study of Indonesian cuscuses from Maluku and Papua Island based on 16S rRNA gene. Veterinary World, 13(11), 2319–2325. https://doi.org/10.14202/vetworld.2020.2319-2325
0 Comments
Posting Komentar