Ketika Krisis Iklim Mengancam Satwa Liar di Dunia

Gambar 1. Beberapa contoh runtuhnya populasi hewan yang sebagian disebabkan oleh perubahan iklim (Sumber: BioScience, 2025).
Krisis Iklim Bukan Hanya Masalah Manusia
Dunia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Berdasarkan laporan Global Risk Perception Survey 2022–2023 yang diterbitkan oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), kerusakan lingkungan, perubahan iklim, serta berbagai dampak yang ditimbulkannya termasuk dalam risiko global utama dalam jangka waktu dua hingga sepuluh tahun mendatang. Hal ini menegaskan bahwa krisis lingkungan merupakan permasalahan berskala global yang memerlukan perhatian serius dan upaya penanganan secara segera. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya krisis multidimensi adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan. Hutan mengalami deforestasi, sementara ekosistem mangrove mengalami pengeringan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit maupun kawasan industri berskala besar. Eksploitasi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah daratan, tetapi juga meluas hingga kawasan laut dan pesisir.
Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan di Indonesia. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2024, tercatat sebanyak 1.942 kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia yang menyebabkan lebih dari 5,6 juta orang terdampak. Berbagai bencana tersebut meliputi banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, kebakaran hutan, hingga pergerakan tanah. Selain mengancam keselamatan dan kehidupan manusia, kerusakan lingkungan juga meningkatkan risiko kepunahan keanekaragaman hayati. Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan bahwa sekitar satu juta spesies di dunia berada dalam ancaman kepunahan akibat degradasi lingkungan.
Bagaimana Krisis Iklim Mengubah Habitat Satwa?
Krisis iklim mengubah habitat satwa melalui peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, kekeringan, serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem seperti banjir, badai, dan kebakaran hutan. Perubahan tersebut dapat mengurangi ketersediaan air dan makanan, merusak tempat berlindung, serta mengganggu lokasi perkembangbiakan satwa. Peningkatan suhu juga dapat mendorong satwa berpindah ke wilayah yang lebih dingin, seperti dataran tinggi, tetapi tidak semua spesies mampu beradaptasi atau menemukan habitat baru yang sesuai. Berdasarkan data IUCN Red List versi 2023 dan Catalogue of Life versi 2024, kekeringan tercatat sebagai ancaman terkait iklim bagi 1.735 spesies satwa, sedangkan perubahan atau pergeseran habitat menjadi ancaman bagi 1.646 spesies. Data tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim dapat mengurangi ketersediaan air, mengubah kondisi lingkungan, dan mengganggu kelangsungan hidup satwa di berbagai ekosistem.
Selain mengubah habitat daratan, krisis iklim juga memengaruhi ekosistem perairan dan pesisir. Peningkatan suhu laut dapat menyebabkan pemutihan terumbu karang, sedangkan kenaikan permukaan laut dapat mengurangi luas habitat pesisir dan pulau-pulau kecil. Perubahan kondisi lingkungan tersebut dapat mengurangi ketersediaan tempat berlindung, sumber makanan, dan lokasi perkembangbiakan satwa. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh spesies yang hidup di habitat tersebut, tetapi juga dapat meluas ke organisme lain melalui perubahan rantai makanan dan interaksi ekologis. Perubahan iklim dapat mengganggu kelangsungan hidup satwa melalui perubahan habitat, peningkatan suhu ekstrem, kekeringan, serta kejadian cuaca ekstrem (Khalid & Fansuri, 2024)..
Orangutan: Korban Nyata Krisis Iklim di Indonesia
Orangutan merupakan satu-satunya kera besar asli Asia dan di Indonesia hanya ditemukan di Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Sumatra (Pongo abelii). Kedua spesies berstatus Critically Endangered (Erb et al., 2018; Wich et al., 2016). Ancaman terbesar bagi orangutan adalah hilangnya hutan. Antara 1999–2015, populasi orangutan Kalimantan berkurang lebih dari 100.000 individu akibat eksploitasi sumber daya alam dan perubahan tutupan lahan (Voigt et al., 2018). Di Sumatra, populasi diperkirakan mencapai 14.613 individu pada 2015, namun peningkatan dari estimasi sebelumnya disebabkan oleh cakupan survei yang lebih luas, bukan pertumbuhan populasi. Kehilangan hutan diperkirakan dapat menyebabkan hilangnya hingga 4.500 individu pada 2030 (Wich et al., 2016). Krisis iklim semakin memperburuk kondisi habitat yang telah menyusut.

Gambar 2. Peta citra Landsat-8 (19 Agustus 2015) yang memperlihatkan perambatan api di sekitar Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, berdasarkan deteksi satelit TET-1 pada 24 September–23 Oktober 2015. Warna merah hingga kuning menandai area terbakar dari tanggal terdeteksi paling awal hingga paling akhir, sedangkan kotak putih (F01–F16) menandai area pengamatan pergerakan api (Sumber: Atwood et al., 2016).
Dampak iklim paling nyata bagi orangutan terlihat pada kebakaran hutan dan lahan gambut. Asap dari kebakaran tersebut tidak hanya membahayakan manusia, tetapi juga mengganggu kondisi tubuh orangutan. Asap kebakaran diketahui merugikan kesehatan satwa lain, seperti iritasi mata dan tenggorokan, sesak napas, dan gangguan imun pada hewan ternak (Erb et al., 2018). Pada orangutan, dampaknya diteliti langsung di Stasiun Riset Tuanan, Kalimantan Tengah. Peneliti mengamati perilaku dan mengambil sampel urin dari empat jantan dewasa berpipi (flanged) sebelum, saat, dan sesudah kebakaran, pada Maret 2015 sampai Januari 2016, ketika konsentrasi PM10 berada pada level berbahaya. Orangutan menambah waktu istirahat selama dan setelah periode asap, mengurangi waktu serta jarak jelajah, dan mengalami peningkatan pemecahan lemak setelah asap. Peningkatan keton dalam urin tidak berkaitan dengan perubahan asupan kalori sehingga kemungkinan disebabkan naiknya pengeluaran energi, yang mungkin terkait respons imun. Temuan ini menunjukkan asap kebakaran menurunkan kondisi tubuh orangutan meskipun satwa tidak terbakar langsung, dan penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk menilai ancamannya terhadap kelangsungan hidup spesies (Erb et al., 2018).

Gambar 3. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bergelantung di antara batang pohon di hutan, habitat yang terancam oleh kebakaran hutan dan lahan gambut. Orangutan sangat bergantung pada pohon untuk mencari makan, bersarang, dan berpindah (Sumber: Andrew Walmsley dan OuTrop).
Orangutan sangat bergantung pada ketersediaan buah sebagai sumber energi utama, sehingga gangguan pola pembuahan akibat perubahan lingkungan dapat meningkatkan tekanan fisiologisnya (Knott, 1998). Namun, pengaruh fenomena El Niño terhadap musim buah tidak seragam di seluruh habitat; penelitian di hutan dataran rendah Sumatra bagian barat laut menunjukkan bahwa pembuahan massal tidak berkorelasi dengan ENSO, sehingga dampak perubahan iklim terhadap orangutan dapat berbeda antar wilayah dan habitat (Wich & van Schaik, 2000). Karena itu, orangutan, khususnya yang hidup di ekosistem gambut, dipandang sebagai spesies indikator yang mencerminkan kesehatan lingkungan. Penurunan kondisi orangutan akibat asap kebakaran dan perubahan habitat menjadi tanda terganggunya ekosistem, sehingga upaya konservasi orangutan juga berarti melindungi hutan dan keanekaragaman hayati yang bergantung padanya (Erb et al., 2018).
Satwa Lain yang Turut Terancam
Perubahan iklim menjadi ancaman yang semakin serius bagi kelangsungan hidup satwa liar di seluruh dunia. Peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca, kekeringan, banjir, gelombang panas, dan kenaikan permukaan laut menyebabkan gangguan pada habitat, reproduksi, migrasi, serta kemampuan hewan untuk bertahan hidup. Berdasarkan data IUCN, terdapat 3.585 spesies hewan yang telah teridentifikasi terancam oleh perubahan iklim, atau sekitar 5,1% dari seluruh spesies hewan yang dinilai. Kelompok hewan yang paling rentan meliputi amfibi, reptil, mamalia, burung, ikan, serta berbagai invertebrata laut dan air tawar. Banyak spesies mengalami penurunan populasi akibat suhu ekstrem, kekeringan, dan perubahan habitat yang mengurangi sumber makanan serta tempat hidup mereka. Invertebrata laut sangat rentan karena kemampuan berpindah yang terbatas, sementara ekosistem terumbu karang juga mengalami kerusakan akibat pemanasan laut.
Beberapa contoh nyata dampak perubahan iklim antara lain kematian sekitar 4 juta burung murre, hilangnya miliaran kepiting salju di Laut Bering, penurunan populasi lebah bumblebee, kematian massal bintang laut matahari, serta kepunahan Bramble Cay melomys, yang dianggap sebagai mamalia pertama yang punah akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. perubahan iklim tidak hanya mengancam spesies tertentu, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati global (Ripple et al., 2025).
Apa yang Bisa Dilakukan?
.
Gambar 4. Konektivitas habitat sebagai strategi konservasi satwa liar
(Sumber: Littlefield et al., 2019).
Krisis iklim yang mengancam satwa liar perlu ditangani melalui mitigasi perubahan iklim dan perlindungan habitat secara berkelanjutan. Upaya yang dapat dilakukan meliputi pengurangan emisi gas rumah kaca, pencegahan deforestasi, serta pemulihan ekosistem yang rusak untuk meningkatkan keanekaragaman hayati dan fungsi lingkungan (Wang et al., 2024). Selain itu, pembangunan koridor ekologis penting untuk menjaga keterhubungan antarkawasan alami sehingga satwa dapat berpindah ke habitat yang lebih sesuai ketika perubahan iklim menggeser persebarannya dan fragmentasi habitat menghambat pergerakannya (Littlefield et al., 2019). Pengelolaan kawasan konservasi juga perlu diperkuat melalui pemantauan populasi, identifikasi spesies rentan, evaluasi habitat secara berkala, serta penerapan strategi adaptasi yang menyesuaikan perubahan kondisi lingkungan (Handler et al., 2022). Di sisi lain, masyarakat dapat berkontribusi melalui pelestarian lingkungan, penanaman vegetasi lokal, pengurangan sampah, dan partisipasi dalam perlindungan habitat. Dengan dukungan pemerintah, peneliti, dan organisasi konservasi serta pemantauan efektivitas program secara berkelanjutan, upaya perlindungan habitat dan adaptasi terhadap perubahan iklim dapat membantu mengurangi risiko terhadap kelangsungan hidup satwa liar (Gillingham et al., 2024).
Penulis : Mutiara Salsabila (KPP XII), Rasyida Almiragaluh Rukmantara (KPP XIII), Afifah Musmarina (KPP XIII), Zahra Khairunnisa (KPP XIII), Aulia Fany Damayanti (KPP XIII).
Daftar Pustaka
Cooley, S., Schoeman, D., Bopp, L., Boyd, P., Donner, S., Ghebrehiwet, D. Y., Ito, S.-I., Kiessling, W., Martinetto, P., Ojea, E., Racault, M.-F., Rost, B., & Skern-Mauritzen, M. (2022). Oceans and coastal ecosystems and their services. In H.-O. Pörtner et al. (Eds.), Climate change 2022: Impacts, adaptation and vulnerability (pp. 379–550). Cambridge University Press. https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg2/chapter/chapter-3/
Erb, W. M., Barrow, E. J., Hofner, A. N., Utami-Atmoko, S. S., & Vogel, E. R. (2018). Wildfire smoke impacts activity and energetics of wild Bornean orangutans. Scientific Reports, 8, 7606. https://doi.org/10.1038/s41598-018-25847-1
Gillingham, P. K., Britton, J. R., Jones, G., Miller-Rushing, A., Stafford, R., & Slater, H. (2024). Climate change adaptation for biodiversity in protected areas: An overview of actions. Biological Conservation, 289, 110375. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2023.110375
Handler, S. D., Ledee, O. E., Hoving, C. L., Zuckerberg, B., & Swanston, C. W. (2022). A menu of climate change adaptation actions for terrestrial wildlife management. Wildlife Society Bulletin,46(4),e1331. https://doi.org/10.1002/wsb.1331
Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES). (2019). Media release: Global assessment. Retrieved from https://www.ipbes.net/news/Media-Release-Global-Assessment
Khalid, K., & Fansuri, H. (2024). Spiritualitas ekologis: Peran agama dalam mengatasi krisis iklim. Maarif: Arus Pemikiran Islam dan Sosial, 19(1). https://doi.org/10.47651/mrf.v19i2.260
Knott, C. D. (1998). Changes in orangutan caloric intake, energy balance, and ketones in response to fluctuating fruit availability. International Journal of Primatology, 19, 1061–1079.
Littlefield, C. E., Krosby, M., Michalak, J. L., & Lawler, J. J. (2019). Connectivity for species on the move: Supporting climate-driven range shifts. Frontiers in Ecology and the Environment, 17(5), 270–278. https://doi.org/10.1002/fee.2043
NASA. (2015). Agricultural fires across Borneo [Citra satelit]. NASA/Goddard Space Flight Center. https://www.nasa.gov/image-article/agricultural-fires-across-borneo/
NASA Earth Observatory. (2015, October 19). Heavy smoke blankets Borneo [Citra satelit]. https://earthobservatory.nasa.gov/images/86847/heavy-smoke-blankets-borneo
Ripple, W. J., Wolf, C., Gregg, J. W., & Torres-Romero, E. J. (2025). Climate change threats to Earth’s wild animals. BioScience, 75(6), 519–523. [https://doi.org/10.1093/biosci/biaf059](https://doi.org/10.1093/biosci/biaf059)
Voigt, M., Wich, S. A., Ancrenaz, M., Meijaard, E., Abram, N., Banes, G. L., … Kühl, H. S. (2018). Global demand for natural resources eliminated more than 100,000 Bornean orangutans. Current Biology, 28 (5), 761–769. https://doi.org/10.1016/j.cub.2018.01.053
Wang, Z., Wang, T., Zhang, X., Wang, J., Yang, Y., Sun, Y., Guo, X., Wu, Q., Nepovimova, E., Watson, A. E., & Kuca, K. (2024). Biodiversity conservation in the context of climate change: Facing challenges and management strategies. Science of the Total Environment, 937, 173377. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2024.173377
Wich, S. A., Singleton, I., Nowak, M. G., Utami Atmoko, S. S., Nisam, G., Arif, S. M., … Kühl, H. S. (2016). Land-cover changes predict steep declines for the Sumatran orangutan (Pongo abelii). Science Advances, 2(3), e1500789.
Wich, S. A., & van Schaik, C. P. (2000). The impact of El Niño on mast fruiting in Sumatra and elsewhere in Malesia. Journal of Tropical Ecology, 16(4), 563–577.
World Economic Forum. (2023). Global risk perception survey. Retrieved from https://www.weforum.org/publications/global-risks-report-2023/digest/
0 Comments
Posting Komentar